Memahami Fenomena Gen Z Merasa Tua, Gen Milenial Merasa Muda Terus
Dapatkan link
Facebook
X
Pinterest
Email
Aplikasi Lainnya
Di unggahan sosial media seringkali Gen Z mengeluhkan kenapa ia menjadi tua lebih cepat. Ternyata, fenomena psikologis ini bukan tanpa sebab. Di era serba cepat dan serba digital, fenomena psikologis yang cukup unik muncul di tengah perbincangan lintas generasi: Gen Z justru merasa lebih tua, sementara Gen Milenial justru merasa terus muda.
Meski terdengar ironis, kondisi ini erat kaitannya dengan gaya hidup, perkembangan teknologi, dan pergeseran cara pandang tentang “kedewasaan”. Terutama gaya hidup membuat hal ini, karena hidup di era serba update, Gen Z takut terlihat ‘anak kecill’. Mereka berusaha tampil lebih mature agar dianggap keren dan setara di media sosial. Dan ini berkebalikan dengan gen milenial.
Seperti yang dikutip dari sinardaliy.my dalam artikel “The age paradox of Gen Z” (2025) menyatakan bahwa Gen Z mengalami “digital duality” hidup dalam dunia profesional dewasa sekaligus budaya remaja digital yang membuat mereka merasa lebih memiliki mental dan emosional tua dibandingkan generasi sebelumnya.
Alasan Gen Z Merasa Lebih Tua dari Umur Sebenarnya
Bagi Gen Z yang sebenarnya adalah generasi termuda di dunia kerja saat ini, tekanan untuk selalu relevan membuat mereka sering merasa “menua” sebelum waktunya. Hidup di era teknologi yang berkembang sangat cepat, Gen Z dituntut untuk selalu update. Fashion yang cepat berganti, tren digital yang berumur pendek, hingga bahasa gaul yang silih berganti membuat mereka merasa cepat tertinggal bila tak ikut arus.
Perasaan “kalau ketinggalan berarti tua” jadi hal yang nyata dirasakan sebagian Gen Z. Ditambah lagi, kehadiran Gen Alpha, generasi setelah mereka yang tumbuh lebih melek digital dan terbiasa dengan kecanggihan AI sejak kecil, membuat Gen Z sadar bahwa mereka bukan lagi “adik terkecil” dalam rantai generasi.
Tak hanya itu sejak remaja, Gen Z sudah terbiasa juggling: sekolah online, side hustle, bikin konten, bangun personal branding di media sosial, sampai belajar skill baru demi tetap relevan. Gaya hidup multitasking inilah yang membuat mereka merasa cepat “matang” padahal kadang belum siap mental.
Gen Milenial yang Selalu Merasa Muda
Sementara di sisi lain, Generasi Milenial (Gen Y) justru punya kecenderungan untuk merasa awet muda. Banyak di antara mereka menunda tonggak hidup tradisional seperti menikah, punya anak, atau membeli rumah. Hal ini menjadikan makna “dewasa” bagi Milenial berbeda dari generasi sebelumnya.
Gaya hidup mereka pun mendukung hal itu masih gemar traveling, mengoleksi mainan, nongkrong di kafe kekinian, hingga aktif di media sosial layaknya Gen Z. Lihat saja beberapa figur publik dari generasi Milenial: Raisa, Tatjana Saphira, hingga Dian Sastro mereka kerap tampil segar dan stylish, jauh dari kesan “tua”.
Tak hanya itu, Milenial selalu berusaha untuk relevan dengan hal-hal kekinia. Tak jarang mereka mengusahakan untuk memahami tren lewat sosial media. Milenial masih aktif di media sosial, main TikTok, nonton drama Korea, atau bikin konten lucu. Semua ini bikin mereka merasa punya “jiwa muda” meski usia kepala tiga ke atas.
Selain itu, bagi Milenial jadi dewasa tidak selalu identik dengan gaya hidup mapan. Mereka tetap nyaman traveling, jajan kopi mahal, nongkrong, atau sekadar nonton konser layaknya Gen Z.
Fenomena Tren Gen Z Lebih Tua dibanding Milenial di Sosial Media
Fenomena ini juga makin ramai dibicarakan di media sosial. Meme seperti saat Gen Z berumur 15 tahun dengan Gen Milenial di umur yang sama, bertebaran di sosial media. Banyak orang dewasa dalam hal ini milenial terkejut melihat anak-anak Gen Z, bahkan pra-remaja, tampil dengan gaya make up penuh, fashion dewasa, serta perawatan yang dulu hanya lumrah di usia matang mulai dari eyelash extension, hair extension, nail art hingga treatment kecantikan lainnya.
Tren ini memunculkan bias perbandingan, di mana Gen Z sering dibandingkan secara mental maupun fisik dengan generasi sebelumnya, padahal mereka hidup di konteks budaya yang berbeda.
Fenomena ini jadi pengingat bahwa cara setiap generasi memaknai usia dan kedewasaan memang terus berubah. Bagi Gen Z, rasa “cepat tua” bukan soal angka di KTP, melainkan kecepatan dunia di sekitar mereka. Sementara bagi Milenial, “muda” tak lagi sekadar usia, melainkan bagaimana mereka memilih cara hidup dan berpikir.
Rumah dengan desain dominasi kaca semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Dengan tampilannya yang modern, elegan, dan estetik, rumah ini sering menjadi pilihan bagi keluarga yang ingin menghadirkan suasana terang dan terhubung dengan alam. Kaca sebagai elemen utama dalam konstruksi rumah memberikan banyak manfaat, mulai dari pencahayaan alami hingga tampilan minimalis yang unik. Namun, di balik daya tariknya, rumah berbahan kaca juga memiliki tantangan tersendiri yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk membangun atau membelinya. Ulasan berikut ini akan membahas secara mendalam kelebihan dan kekurangan memiliki rumah dominasi kaca bagi keluarga, sehingga kamu bisa menilai apakah konsep ini cocok untuk kebutuhan dan gaya hidup keluarga mu nanti. Kelebihan : Mendapatkan Sinar Matahari dengan Optimal Salah satu keuntungan utama rumah dengan banyak kaca adalah kemampuan untuk memaksimalkan pencahayaan alami. Rumah kaca memungkinkan sinar matahari masuk ke...
Hobi mengunyah permen karet ternyata bukan sekadar kebiasaan ringan untuk mengisi waktu luang. Banyak orang menjadikannya sebagai rutinitas kecil saat merasa bosan, menunggu, atau sekadar butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiran. Meski terlihat sederhana, aktivitas ini menyimpan banyak cerita menarik di baliknya. Ada yang mengunyahnya sebelum presentasi penting agar lebih rileks, ada pula yang menjadikannya penyemangat saat perjalanan panjang. Bahkan, di beberapa budaya, permen karet dianggap simbol gaya hidup modern yang praktis dan menyenangkan. Menariknya, mengunyah permen karet juga memiliki sisi psikologis tersendiri. Ritme mengunyah yang berulang-ulang bisa memberikan efek menenangkan bagi sebagian orang. Selain itu, permen karet sudah menjadi bagian dari keseharian yang mudah diakses oleh siapa saja. Untuk itu, berikut manfaat mengunyah permen karet yang jarang orang ketahui. 1. Melatih Otot Wajah Mengunyah permen karet bu...
Sosok ayah dengan berbagai usaha membersamai keluarga jarang sekali menjadi perbincangan. Dibandingkan dengan Hari Ibu yang sering dirayakan, Hari ayah bagi sebagian orang mungkin terasa kurang mendapat perhatian. Padahal, disinilah peran seorang ayah dapat lebih dikenal. Cara Ayah mengekspresikan rasa sayangnya mungkin memang berbeda. Dengan stereotip sosok ayah yang dianggap kurang ekspresif juga bisa membuat momen untuk merayakan kasih sayang pada ayah seringkali terlewatkan. Setiap tanggal 12 November, kita memperingati Hari Ayah Nasional . Ini adalah momen yang tepat untuk kita lebih dekat dengan ayah. Seperti pengungkapan rasa terima kasih, dan membangun hubungan yang lebih erat. Untuk membuat Hari ayah lebih berkesan, yuk kita eksplorasi berbagai ide aktivitas seru yang bisa dilakukan bersama ayah! Aktivitas di Hari Ayah 1. Sarapan Spesial untuk Ayah Salah satu cara sederhana untuk menghadirkan kehangatan memulai hari Ayah adalah dengan membuatkan sarapan...
Komentar
Posting Komentar