Sulit Mencari Bahagia, Ternyata Bahagia Ada di Mana-mana


 

 Kebahagiaan, sebuah kata sederhana yang seringkali sulit untuk dimaknai. Setiap kita pasti memiliki definisi kebahagiaan yang berbeda-beda. Mulai dari sesederhana menikmati secangkir kopi di pagi hari hingga pencapaian prestasi besar.  Namun, di tengah kesibukan kehidupan modern saat ini, banyak dari kita yang merasa kesulitan menemukan kedamaian batin dan kebahagiaan yang kita inginkan.

Tekanan dari berbagai aspek, seperti tuntutan keluarga, pekerjaan, ekspektasi sosial, dan perkembangan teknologi, seringkali membuat kita merasa terbebani. Media sosial dengan algoritmanya yang dirancang untuk memicu emosi, misalnya, dapat menciptakan perasaan tidak puas dan membandingkan diri dengan orang lain. Hubungan interpersonal yang kurang harmonis dan ekspektasi yang tidak realistis juga dapat menjadi sumber stres yang signifikan.

Survei World Happinnes Report 2023 melansir worldhappiness.report yang diadakan oleh Gallup, Oxford Wellbeing Research Centre, UN Sustainable Development Solutions Network, dan WHR Editorial Board menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-84 dari 137 negara dalam hal kebahagiaan, dengan skor 5,3 dari 10 . Tentunya ada berbagai variabel yang menjadi dasar dalam menentukan tingkat kebahagian sebuah negara, dan masyarakatnya. 

Kebahagiaan dan diri sendiri

1. Mengenal Diri: 

Dalam mencari kebahagiaan yang diincar semua orang, seringkali kita mengabaikan diri sendiri. Melupakan perkenalan dengan diri kita demi mendapatkan kebahagiaan yang kebanyakan bersifat sementara. Dengan memahami kekuatan, kelemahan, nilai-nilai, dan tujuan hidup dalam diri, kita dapat membuat pilihan-pilihan yang lebih baik dan sejalan dengan diri kita.

2. Mengelola Emosi: 

Dengan mengenali diri kita lebih dalam, tentu memudahkan kita untuk belajar mengelola emosi negatif seperti marah, sedih, atau kecewa. Pengelolaan emosi ini adalah keterampilan penting untuk mencapai kedamaian secara emosional.

3. Meningkatkan Hubungan Interpersonal: 

Ketika mengenal diri, cobalah perlahan membangun hubungan yang sehat dengan keluarga, teman, dan rekan kerja. Lingkungan yang mendukung dapat memberikan ketenangan secara emosional dan meningkatkan kualitas hidup yang akan kita jalani. 

Kolaborasi kebahagiaan

Head of Coalition & Outreach Pijar Foundation, Alfianda Karuza, mengutip ungkapan berikut, "Our parents’ ceiling is our floors, yang menggambarkan bahwa pencapaian dan batas tertinggi yang dicapai oleh generasi sebelumnya (orang tua) menjadi titik awal bagi generasi berikutnya (anak-anak). Ungkapan ini mencerminkan proses perkembangan antar generasi, di mana orang tua berusaha untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak mereka, baik dari segi materi, pendidikan, maupun pengalaman hidup.” 

Hal ini berarti bahwa setiap generasi dapat mewarisi pelajaran, nilai, dan peluang yang memungkinkan mereka mencapai kesejahteraan lebih tinggi. Dengan begitu, orang tua yang telah bekerja keras untuk mengatasi tantangan dan membangun fondasi yang kuat akan memberikan anak-anak mereka kesempatan untuk memulai dari posisi yang lebih baik, sehingga mereka dapat fokus pada pencapaian kebahagiaan yang lebih mendalam, dan kesehatan mental yang lebih baik. Ini juga menggarisbawahi pentingnya membangun keseimbangan emosional dan mental yang sehat dari generasi ke generasi, agar setiap individu dapat tumbuh dalam lingkungan yang lebih mendukung.

Kebahagiaan bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah perjalanan. Dengan memahami diri sendiri, mengelola emosi, dan membangun hubungan yang sehat, kita dapat menemukan kebahagiaan di tengah segala kompleksitas kehidupan. Kolaborasi lintas disiplin dan generasi, serta dukungan dari berbagai pihak, semakin memperkuat upaya untuk menciptakan masyarakat yang lebih bahagia dan sejahtera.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kelebihan dan Kekurangan Memiliki Rumah Dominasi Kaca bagi Keluarga

Manfaat Mengunyah Permen Karet yang Jarang Diketahui

Ide Aktivitas Seru dan Bermakna untuk Merayakan Hari Ayah